🏍️
Motor Listrik · HS 8711.60
Catatan & Sumber Data. Seluruh data pengiriman pada dashboard ini bersumber dari data kepabeanan publik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (HS 8711.60 — motor dengan penggerak motor listrik), periode Juli 2024 – Maret 2026. Data kepemilikan perusahaan bersumber dari Ditjen AHU Kementerian Hukum dan HAM. Dashboard ini adalah kompilasi data terbuka yang ditujukan untuk membantu pembaca memahami pola yang terlihat. Seluruh analisis bersifat deskriptif, bukan tuduhan hukum, dan tidak dimaksudkan untuk merugikan nama baik pihak mana pun. Pembuktian kami serahkan pada lembaga berwenang.
1.724
Total pengiriman motor listrik
HS 8711.60 · Jul 2024 – Feb 2026
166
Pengiriman dalam jendela kontrak BGN
Des 2025 – Feb 2026
83%
Berasal dari Tiongkok, Hong Kong, atau India
138 dari 166 pengiriman pada jendela tsb
0
Pengiriman atas nama Yasa Artha atau Adlas
Vendor BGN tidak muncul sebagai importir
Apa yang kami temukan
Antara Juli 2024 sampai Maret 2026, total ada 1.724 pengiriman motor listrik masuk ke Indonesia. Lebih dari separuhnya — 927 pengiriman — datang dari Tiongkok. Sisanya tersebar di Vietnam, Taiwan, Singapura, Hong Kong, dan beberapa negara lain.

Yang menarik bukan angka totalnya, tapi apa yang terjadi pada Desember 2025 ke atas — tepat di jendela waktu yang disebut Kepala BGN Dadan Hindayana sebagai periode realisasi kontrak motor listrik. Pada periode ini ada 166 pengiriman, dan 138 di antaranya berasal dari Tiongkok, Hong Kong, atau India.

Apakah pengiriman-pengiriman ini berhubungan dengan program BGN? Data kepabeanan tidak bisa menjawabnya. Yang bisa kami tunjukkan hanyalah pola — siapa importir baru yang muncul, berapa nilai deklarasinya, dan dari mana asalnya.

Temuan paling tajam justru muncul ketika kami menyilangkan data bea cukai dengan dokumen Ditjen AHU. PT Yasa Artha Trimanunggal — vendor yang tanda tangan kontrak BGN tanggal 14 Oktober 2025 — tidak muncul sekali pun sebagai importir di seluruh 1.724 baris data. Begitu juga PT Adlas Sarana Elektrik, pemegang sertifikat TKDN dan paten merek Emmo.

Kontraknya bernilai sekitar Rp 1,05 triliun untuk 25.000 unit. Tapi pemenangnya tidak terlihat di data impor. Pertanyaan yang muncul: kalau bukan mereka yang mengimpor, lalu siapa?
📦 Importir baru dengan nilai deklarasi tidak biasa

Pada jendela Desember 2025 ke atas muncul sejumlah importir yang sebelumnya tidak ada di dataset. Beberapa di antaranya menonjol karena frekuensi pengirimannya melonjak atau karena nilai deklarasinya rendah secara konsisten:

  • PT Lawang Rizki Perkasa — kiriman dari Taizhou Antelopower Technology (Tiongkok), nilai sekitar US$2.000 per pengiriman
  • CV Puncak Pitulikur — nilai deklarasi US$519–531 per pengiriman
  • PT Dinamic Intan Nusantara dan PT Delima Intan Mulia — dua importir dengan kata "Intan" yang sama-sama baru muncul di Desember 2025
  • CV Jaya Sejahtera Raya dan CV Guna Surya Mandiri
  • PT Nusantara Ekspor Impor — 89 pengiriman dalam 7 hari dari supplier "JIANGSU BICYCE AND ELECTRIC VEHICE ASSOCIATION" (terdapat kesalahan ejaan pada nama supplier)

Kami melakukan pelacakan silang nama-nama ini terhadap profil publik Yasa Group dan tidak menemukan indikasi afiliasi resmi. Penanda ketidakterhubungan ini bisa berarti memang tidak ada kaitan, atau kaitannya tidak terekspose di dokumen terbuka — verifikasi lebih lanjut kami serahkan pada pihak yang punya akses dokumen lebih luas.

💵 Selisih harga deklarasi vs harga kontrak

Sejumlah pengiriman dari Tiongkok dideklarasikan dengan nilai US$500 sampai US$2.000 per pengiriman. Nilai sebesar itu wajar untuk satu unit motor listrik kelas menengah ke bawah, tapi terasa kontras dengan harga kontrak BGN yang menurut pemberitaan adalah Rp 42 juta (sekitar US$2.600) per unit.

Perbedaan ini bisa dijelaskan oleh banyak hal yang sah — perbedaan spesifikasi barang, struktur harga CIF vs harga jual, atau pengiriman dalam bentuk belum rakit (CKD/IKD). Tapi tetap merupakan titik yang layak diverifikasi lebih lanjut.

🏷️ 45 pengiriman tanpa merek pada jendela waktu yang sama

Pada jendela Desember 2025 – Maret 2026 ada 45 pengiriman dengan deskripsi produk yang tidak menyebutkan merek — ditulis "Tanpa Merek" atau "N/M". Praktik impor produk tanpa merek ini lazim dalam perdagangan barang white-label, namun patut dicatat sebagai salah satu pola yang melekat pada periode sensitif ini.

Detail struktur kepemilikan PT Yasa Artha Trimanunggal dan PT Adlas Sarana Elektrik beserta keterkaitan kepemilikannya dapat dilihat pada panel Yasa Group & Adlas.

Catatan penutup ikhtisar. Seluruh perusahaan yang disebut namanya pada ringkasan di atas muncul pada data kepabeanan publik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Penyebutan nama tidak dimaksudkan sebagai tuduhan. Pembaca diimbau untuk tidak mengambil kesimpulan sepihak.
Tertinggi
Okt 2024
277 pengiriman
Terendah
Nov 2024
45 pengiriman
Rata-rata / bulan
86
semua periode
Des 2025 + Jan 2026
126
periode realisasi kontrak BGN
Volume per bulan — Okt 2024 dan Des 2025–Feb 2026 disorot
Volume per bulan
Okt 2024 — puncak tertinggi dataset
277 pengiriman dalam 1 bulan — 208 di antaranya adalah PT Smart Motor Indonesia mengimpor Kymco Agility EV 2.0 dari Vietnam, satu per satu pengiriman dengan nomor rangka unik.
Des 2025 – Feb 2026 (periode kontrak BGN)
Periode bersamaan dengan realisasi bertahap 21.801 unit motor listrik Emmo untuk program MBG (per keterangan Kepala BGN, 7 April 2026).
#ImportirPengirimanPeriode AktifNegara AsalSupplier UtamaStatus
Jumlah pengiriman per negara asal
Asal negara
Rincian & proporsi
Pengiriman dari India (IND) — 10 pengiriman tercatat
Dari 1.724 pengiriman dalam dataset, hanya 10 berasal dari India. Merek Emmo yang digunakan BGN disebut berasal dari India — namun tidak ada pengiriman atas nama PT Yasa Artha Trimanunggal atau merek Emmo dalam data ini.
TanggalImportirSupplier (India)ProdukNilai (USD)Risk
6 Feb 2026PT. Indo Kharisma YashameGreaves Electric Mobility LtdMagnus Neo 2.3 kWh — AmpereForced Labor
6 Feb 2026PT. Indo Kharisma YashameGreaves Electric Mobility LtdNexus ST Graphite Black — AmpereForced Labor
13 Jan 2026TVS Motor Company LtdTVS Motor Company LtdTVS Orbiter V2 (2 varian)PEP Related
8 Jul 2025TVS Motor Company LtdTVS Motor Company LtdTVS iQube Electric S Mint BluePEP Related
28 Jan 2025TVS Motor Company LtdTVS Motor Company LtdTVS iQube Electric SmartXonnect 9PPEP Related
16 Okt 2024TVS Motor Company LtdTVS Motor Company LtdTVS iQube Electric SmartXonnect 9WPEP Related
20 Agu 2024PT. Samudra Permata MotokarzTVS Motor Company LtdBMW K06 High Motorcycle ECE (2 unit)
18 Nov 2024PT. Blitz Electric MobilityBNC Motors Private LimitedChallenger S125 EV Duali Battery + Fast Charger3.200
25 Des 2024PT. Blitz Electric MobilityBNC Motors Private LimitedChallenger S125 EV — Blue / Red500+500
Konteks Pengadaan Motor Listrik BGN
  • Agu–Okt 2025
    Paten desain industri Emmo JVX GT (22 Agu) dan JVH Max (17 Okt) didaftarkan atas nama PT Adlas Sarana Elektrik
  • 14 Oktober 2025
    Kontrak ditandatangani antara BGN dan PT Yasa Artha Trimanunggal via e-Katalog 6.0 LKPP. Paten JVH Max baru didaftarkan 3 hari setelahnya
  • Desember 2025
    Realisasi pengiriman motor mulai bertahap. PT Yasa Artha tidak ditemukan dalam data bea cukai impor periode ini
  • 7 April 2026
    Kepala BGN Dadan Hindayana: 21.801 dari 25.000 unit terealisasi, harga Rp 42 juta/unit. Motor belum didistribusi, menunggu proses BMN
  • 9 April 2026
    DPR Komisi IX minta BGN batalkan pengadaan jika tidak tepat. Menkeu Purbaya: pengadaan serupa pernah ditolak tahun sebelumnya
Entitas dalam rantai pengadaan
Emmo Mobility
Merek motor · baru berdiri 2025 · tidak ada dealer di Google Maps · brosur baru diunggah 18 Feb 2026
PT Adlas Sarana Elektrik
Produsen/integrator · pemegang TKDN · pendaftar paten desain
PT Kaisar Motorindo Industri
Pabrikan motor
PT Yasa Artha Trimanunggal
Vendor di e-Katalog · kontrak ±Rp 1,2 T · Dirut Yenna Yuniana diperiksa KPK terkait bansos 2020
Angka kunci pengadaan
Unit dipesan
25.000
Terealisasi
21.801
Harga/unit
Rp 42 jt
Total kontrak
±Rp 1,2 T
Mekanisme: e-Katalog 6.0 LKPP via e-purchasing — tidak melalui tender terbuka
PT Yasa Artha di data bea cukai
0
tidak ditemukan dalam 1.724 baris
Pengiriman dari India
10
3 importir berbeda
Importir baru Des 2025+
19
tidak ada di data sebelumnya
Tanpa merek, Des 2025+
45
TANPA MEREK / N/M
Kriteria 1 — Asal India, terkonfirmasi
Satu-satunya importir yang mengimpor langsung dari India dalam periode Des 2025–Feb 2026 adalah PT Indo Kharisma Yashame via Greaves Electric (merek Ampere) — bukan merek Emmo.
PT. INDO KHARISMA YASHAME
Supplier · Greaves Electric Mobility Ltd (India)
Produk · Magnus Neo 2.3 kWh · Nexus ST — merek Ampere
Tanggal · 6 Feb 2026 · 2 pengiriman
Importir baru · pertama muncul Des 2025
PT. BLITZ ELECTRIC MOBILITY
Supplier · BNC Motors Private Limited (India)
Produk · Challenger S125 EV (Duali Battery)
Tanggal · Nov–Des 2024 · 3 pengiriman
Nilai · USD 3.200 + USD 500 + USD 500
Kriteria 2 — Volume tidak lazim (Apr 2025)
PT Nusantara Ekspor Impor menerima 89 pengiriman dalam 7 hari kalender. Supplier terbesar: "JIANGSU BICYCE AND ELECTRIC VEHICE ASSOCIATION" — nama mengandung 2 typo tidak lazim.
Pengiriman 34 unit dalam 1 hari (8 Apr) dan 20 unit (9 Apr) seluruhnya dari supplier yang sama. Pola ini tidak lazim untuk importir kendaraan bermotor biasa.
Kriteria 3 — Importir baru, pertama aktif Des 2025 – Feb 2026 (19 entitas)
ImportirPengirimanPertama AktifSupplierProdukRisk
Kriteria 4 — Produk "Tanpa Merek" masuk Des 2025 – Feb 2026 (45 pengiriman)
Produk berlabel TANPA MEREK atau N/M yang masuk setelah Desember 2025. Emmo sendiri adalah merek baru yang baru unggah brosur Februari 2026 — pengiriman berlabel tanpa merek pada periode ini berpotensi terkait.
TanggalImportirSupplierDeskripsiAsal
Analisis Nilai Nominal — Top 20 Importir
Tabel di bawah menampilkan 20 importir dengan nilai deklarasi terbesar (dalam dolar AS, dijumlahkan dari seluruh pengirimannya pada periode dataset). Kolom Status Merek membandingkan nama importir dengan merek motor listrik ternama yang beredar di Indonesia seperti United E-Motor (PT Terang Dunia Internusa), Polytron, Gesits, Alva, Volta, Selis, Smoot, Viar, Yadea, Honda, Kymco, dan TVS. Tujuannya adalah untuk melihat apakah pola nilai impor importir non-merek dapat menyaingi importir brand resmi.
#ImportirTotal Value (USD) Total Value (Rp)Pengiriman AsalStatus Merek

Temuan pengamatan: Importir brand motor listrik terkenal mendominasi posisi tertinggi. PT Terang Dunia Internusa (pemilik merek United E-Motor) mencatatkan total nilai impor tertinggi di atas US$12 juta dari 122 pengiriman. Di sisi lain, tidak satu pun importir yang kami amati di jendela Desember 2025+ (seperti PT Lawang Rizki Perkasa, CV Puncak Pitulikur, atau PT Nusantara Ekspor Impor) masuk ke dalam daftar 20 besar berdasarkan nilai nominal.

Pengamatan menarik lainnya: PT Smart Motor Indonesia (Kymco) tercatat 208 pengiriman — volume pengiriman tertinggi di dataset — namun total nilai deklarasinya hanya sekitar US$205 ribu, atau rata-rata sekitar US$990 per pengiriman. Pola satu-unit-per-pengiriman ini khas untuk skema CKD/IKD (perakitan dalam negeri) di mana satu pengiriman berisi satu rangka unit.

Konteks pembanding: Jika dikonversi ke rupiah dengan kurs Rp 16.000, nilai impor tertinggi (PT Terang Dunia Internusa) setara dengan sekitar Rp 200 miliar selama 20 bulan. Kontrak BGN sendiri bernilai sekitar Rp 1,05 triliun untuk 25.000 unit (25.000 × Rp 42 juta). Angka kontrak ini hampir lima kali lipat total nilai impor importir motor listrik terbesar di dataset. Fakta ini menjadi lebih signifikan bila kita tinjau kembali temuan bahwa PT Yasa Artha Trimanunggal sendiri tidak tercatat sebagai importir dalam dataset kepabeanan.

Sumber: Data kepabeanan publik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, HS 8711.60, periode Juli 2024 – Maret 2026. Nilai value adalah nilai deklarasi pada dokumen kepabeanan. Klik pada header kolom untuk mengurutkan; klik dua kali untuk membalik urutan.
/ halaman
Tanggal Importir Supplier Deskripsi Asal Value (USD) Cur Berat (kg) Pelabuhan Muat
Catatan & Sumber Data. Seluruh informasi struktur kepemilikan dan kepengurusan pada halaman ini bersumber dari dokumen resmi Ditjen AHU Kementerian Hukum dan HAM (SK Pengesahan AHU-0050285.AH.01.02.Tahun 2025 untuk PT Yasa Artha Trimanunggal tanggal 30 Juli 2025, dan SK AHU-0051901.AH.01.02.Tahun 2025 untuk PT Adlas Sarana Elektrik tanggal 5 Agustus 2025). Daftar anak perusahaan Yasa Group bersumber dari yasagroup.net/profil-perusahaan. Halaman ini tidak menyampaikan tuduhan.
Peta Koneksi (berdasarkan AHU) — interaktif
Arahkan kursor ke setiap node untuk efek sorot, atau klik untuk menampilkan detailnya di panel bawah.
Pemegang Saham · Yasa
ANDRI MULYONO
Komisaris Utama Yasa Artha
72,5% saham
YENNA YUNIANA
Direktur Yasa Artha
27,5% saham
A. BUDIHARJA R.
Komisaris Yasa Artha
tanpa saham
BADAN GIZI NASIONAL (BGN)
Pembeli · Kontrak e-Katalog 14 Okt 2025
25.000 unit motor listrik · Rp 42 jt/unit
PT YASA ARTHA TRIMANUNGGAL
Vendor BGN · Modal disetor Rp 150 M
SK AHU 30 Jul 2025 · Jakarta Barat
PT ADLAS SARANA ELEKTRIK
Pemegang TKDN & Paten Emmo · Modal Rp 10,01 M
SK AHU 5 Agt 2025 · Jakarta Selatan
60% dimiliki Yasa Artha
Pemegang Saham & Pengurus · Adlas
ABDULLAH ALWI
Direktur Utama Adlas
30% saham · Rp 3,003 M
GUNANJAR BAROKAH, SE
Direktur Adlas
10% saham · Rp 1,001 M
ANDRI MULYONO
Komisaris Utama Adlas
tanpa saham
YENNA YUNIANA
Komisaris Adlas
tanpa saham
BGN (pembeli) Yasa Artha & terkait Adlas & terkait ⚠ tercatat di KEDUA perseroan
Klik salah satu node di atas untuk melihat detail lengkapnya.
Yasa Group juga menaungi: PT Padma Logistik Xpress · PT Semuwa Aviasi Mandiri (SAM Air) · PT Arora Kreatif Indonesia · PT SPIM · PT Arkan Global Utama · PT Yasa Bumi Artha · PT Yasa Anugerah Sejahtera · PT Yasa Energy Samasta · dll.
PT Yasa Artha Trimanunggal — Rincian AHU
SK Pengesahan: AHU-0050285.AH.01.02.Tahun 2025
Tanggal SK: 30 Juli 2025
Modal dasar & disetor: Rp 150.000.000.000 (1.500.000 lembar @ Rp 100.000)
Jenis: PMDN Non Fasilitas · Tertutup
Notaris: Maarifah, SH., M.Kn. (Tangerang Selatan) · Akta No. 13 tanggal 28 Juli 2025
Kedudukan: Jl. Indraloka II No.1850, Wijaya Kusuma, Grogol Petamburan, Jakarta Barat
Pemegang Saham & Pengurus:
  • Andri Mulyono — Komisaris Utama · 1.087.500 lembar (72,5%) · Rp 108.750.000.000
  • Yenna Yuniana — Direktur · 412.500 lembar (27,5%) · Rp 41.250.000.000
  • A. Budiharja R. — Komisaris · tanpa saham
Total KBLI: 107 bidang usaha (antara lain industri pengolahan daging, industri sepeda motor roda dua KBLI 30911, perdagangan besar sepeda motor baru KBLI 45401, angkutan barang, pergudangan, dan aktivitas perusahaan holding KBLI 64200)
PT Adlas Sarana Elektrik — Rincian AHU
SK Pengesahan: AHU-0051901.AH.01.02.Tahun 2025
Tanggal SK: 5 Agustus 2025
Modal dasar & disetor: Rp 10.010.000.000 (10.010 lembar @ Rp 1.000.000)
Jenis: Swasta Nasional · Tertutup
Notaris: Maarifah, SH., M.Kn. (Tangerang Selatan) · Akta No. 17 tanggal 30 Juli 2025 (notaris sama)
Kedudukan: Gedung Ganeca, Jl. Raya Pasar Minggu No. 234, Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan
Pemegang Saham & Pengurus:
  • PT Yasa Artha Trimanunggal — 6.006 lembar (60%) · Rp 6.006.000.000
  • Abdullah Alwi — Direktur Utama · 3.003 lembar (30%) · Rp 3.003.000.000
  • Gunanjar Barokah, SE — Direktur · 1.001 lembar (10%) · Rp 1.001.000.000
  • Andri Mulyono — Komisaris Utama · tanpa saham
  • Yenna Yuniana — Komisaris · tanpa saham
KBLI utama: 30911 Industri Sepeda Motor Roda Dua dan Tiga · 45407 Reparasi dan Perawatan Sepeda Motor
Temuan Utama dari Pembacaan Silang AHU

1. PT Yasa Artha Trimanunggal adalah pemegang saham mayoritas PT Adlas Sarana Elektrik. Kepemilikan sebesar 60% (6.006 dari 10.010 lembar saham, senilai Rp 6,006 miliar) membuat PT Adlas — yang memegang sertifikat TKDN dan mengajukan desain industri motor Emmo — secara hukum adalah anak perusahaan PT Yasa Artha Trimanunggal. Struktur ini juga konsisten dengan daftar anak perusahaan yang dipublikasikan di yasagroup.net, yang mencantumkan "PT Adlas Sarana Elektrik (EMMO)" sebagai bagian dari Yasa Group.

2. Dua nama muncul di kedua perseroan. Andri Mulyono tercatat sebagai Komisaris Utama di kedua perusahaan (di PT Yasa Artha dengan 72,5% saham; di PT Adlas tanpa saham). Yenna Yuniana tercatat sebagai Direktur di PT Yasa Artha (27,5% saham) dan sebagai Komisaris di PT Adlas (tanpa saham). Artinya pengendali akhir PT Adlas secara substansi adalah orang-orang yang sama yang mengendalikan PT Yasa Artha.

3. Notaris dan tanggal yang berdekatan. Akta kedua perseroan diproses oleh notaris yang sama, Maarifah, SH., M.Kn. di Tangerang Selatan, dengan tanggal akta 28 Juli 2025 (Yasa Artha) dan 30 Juli 2025 (Adlas) — selisih dua hari. Keduanya menjalani perubahan anggaran dasar tepat menjelang periode kontrak BGN diteken pada 14 Oktober 2025.

4. Klaim "perusahaan logistik" tidak sepenuhnya tercermin di data kepabeanan. Yasa Group di situs resminya memposisikan diri sebagai perusahaan jasa logistik, pengadaan umum, alat kesehatan, dan ekspor-impor. Namun ketika kami melakukan pencarian silang nama-nama anak perusahaan Yasa Group (Yasa Artha Trimanunggal, Padma Logistik Xpress, Semuwa Aviasi Mandiri, Arora Kreatif Indonesia, SPIM, Arkan Global Utama, Yasa Bumi Artha, Yasa Anugerah Sejahtera, Yasa Energy Samasta, Adlas Sarana Elektrik, Incomas Jaya Pacific, Trihita Karana Mudita, Sahayoga Artha Trimanunggal) terhadap 1.724 baris data importir pada dataset kepabeanan, tidak satu pun dari nama tersebut muncul sebagai importir. Temuan ini konsisten dengan fakta bahwa tidak ada pengiriman HS 8711.60 (motor listrik) yang dilakukan oleh entitas Yasa Group dalam periode dataset.

Daftar Anak Perusahaan Yasa Group (dari yasagroup.net/profil-perusahaan)
• PT Yasa Artha Trimanunggal
• PT Semuwa Aviasi Mandiri (SAM Air)
• PT Padma Logistik Xpress
• PT Arora Kreatif Indonesia
• PT Surya Persada Inti Makmur (SPIM)
• PT Arkan Global Utama
• PT Yasa Bumi Artha
• PT Yasa Anugerah Sejahtera
• PT Yasa Energy Samasta
• PT Adlas Sarana Elektrik (EMMO)
• PT Incomas Jaya Pacific
• Yayasan Yasa Abhipraya Raharja
• Yayasan Yasa Peduli Papua
• Yayasan Yasa Berkarya Batavia
• Sahayoga Artha Trimanunggal
• PT Trihita Karana Mudita
Hasil pencarian silang ke-16 entitas di atas terhadap 1.724 importir di dataset kepabeanan: tidak ditemukan kecocokan. Artinya tidak satu pun anak usaha Yasa Group muncul sebagai importir motor listrik HS 8711.60 pada periode Juli 2024 – Februari 2026.
Catatan penutup. Seluruh informasi di atas diambil dari dokumen publik (SK Ditjen AHU dan situs resmi yasagroup.net). Dashboard ini tidak menyimpulkan apa pun mengenai asal-usul 25.000 unit motor Emmo yang dipesan BGN. Tidak ada tuduhan yang dimaksudkan terhadap pihak mana pun. Pembaca diimbau berhati-hati dalam menarik kesimpulan.